Jangan Jadikan Agama Sebagai Alat Politik
WESTERNBLOG.XYZ - Agama harus diposisikan di tempat yang mulia dan tidak digunakan sebagai alat legitimasi politik, karena akan menimbulkan masalah.
"Ketika agama digunakan sebagai ideologi yang kuat digunakan untuk politik, itu sah dan diizinkan. Tetapi, ketika agama digunakan sebagai alat untuk legitimasi politik, itu menjadi masalah," kata Direktur Eksekutif Political Review Indonesia Ujang Komarudin dalam sebuah pernyataan pers. diterima pada Jumat (4/4/2019)
Ujang mengatakan, semua pihak harus menempatkan agama di tempat yang tepat. Agama, lanjutnya, tidak boleh dihadapkan dengan politik. Karena, katanya, tidak semua orang memiliki pemahaman agama yang kuat. Kurangnya pemahaman, katanya, digunakan oleh partai-partai tertentu untuk melegitimasi politik.
"Wajar jika pola pikir kita yang salah digunakan oleh partai-partai tertentu untuk melegitimasi politik. Ketika agama digunakan sebagai simbol, itu akan berbahaya," katanya.
Sementara itu, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pengembangan Ideologi Pancasila (BPIP), Pastor Benny Susetyo, mengatakan bahwa ada perpecahan di masyarakat karena urusan politik lima tahun. Penyebabnya diduga karena agama digunakan sebagai alat politik.
"Sekarang antar pertemanan menjadi konflik karena agama digunakan sebagai alat politik. Ini berbahaya," kata Benny.
Dia mengundang media massa untuk berperan membuat orang sadar memiliki budaya kritis. Dengan demikian praktik politisasi agama bisa diminimalisir. "Bagaimana media bisa mengedukasi masyarakat agar tidak lagi menggunakan politisasi agama. Jangan memberi ruang untuk mempolitisasi simbol-simbol agama," katanya.
Benny melanjutkan, agama seharusnya tidak digunakan sebagai alat untuk menyerang lawan politik, apalagi menghancurkan karakter. Alasannya adalah bahwa yang terluka adalah khalayak luas. "Agama bukan alat untuk menyerang lawan politik dan menghancurkan karakter, yang kehilangan publik. Hati-hati ketika agama menjadi aspirasi demi kekuasaan, sehingga menjadi alat untuk menghancurkan peradaban," katanya.
Benny juga meminta KPU dan Bawaslu untuk bertindak tegas terhadap mereka yang mempolitisasi agama. "Tindakan partai-partai yang menggunakan rumah ibadah sebagai alat politik. Ketegasan itu penting karena selama KPU dan Bawaslu tidak tegas, kita akan menghancurkan masa depan kita," pungkasnya.
Sumber
"Ketika agama digunakan sebagai ideologi yang kuat digunakan untuk politik, itu sah dan diizinkan. Tetapi, ketika agama digunakan sebagai alat untuk legitimasi politik, itu menjadi masalah," kata Direktur Eksekutif Political Review Indonesia Ujang Komarudin dalam sebuah pernyataan pers. diterima pada Jumat (4/4/2019)
![]() |
| Photo From OkeNews |
"Wajar jika pola pikir kita yang salah digunakan oleh partai-partai tertentu untuk melegitimasi politik. Ketika agama digunakan sebagai simbol, itu akan berbahaya," katanya.
Sementara itu, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pengembangan Ideologi Pancasila (BPIP), Pastor Benny Susetyo, mengatakan bahwa ada perpecahan di masyarakat karena urusan politik lima tahun. Penyebabnya diduga karena agama digunakan sebagai alat politik.
"Sekarang antar pertemanan menjadi konflik karena agama digunakan sebagai alat politik. Ini berbahaya," kata Benny.
![]() |
| Photo From OkeNews |
Benny melanjutkan, agama seharusnya tidak digunakan sebagai alat untuk menyerang lawan politik, apalagi menghancurkan karakter. Alasannya adalah bahwa yang terluka adalah khalayak luas. "Agama bukan alat untuk menyerang lawan politik dan menghancurkan karakter, yang kehilangan publik. Hati-hati ketika agama menjadi aspirasi demi kekuasaan, sehingga menjadi alat untuk menghancurkan peradaban," katanya.
Benny juga meminta KPU dan Bawaslu untuk bertindak tegas terhadap mereka yang mempolitisasi agama. "Tindakan partai-partai yang menggunakan rumah ibadah sebagai alat politik. Ketegasan itu penting karena selama KPU dan Bawaslu tidak tegas, kita akan menghancurkan masa depan kita," pungkasnya.
Sumber


Komentar
Posting Komentar