LSI Denny JA Peneliti: Pemilu Serentak Seperti Kawin Paksa
WESTERNBLOG.XYZ - Pengamat politik dari LSI Denny JA, Aji Al Farabi, menganggap pemilu 2019 dipaksakan. Hasilnya, menurut Aji, adalah ketidakseimbangan antara kualitas pemilihan presiden dan pemilihan legislatif.
"Kerumitan (Pemilu 2019) kita dapat menyimpulkan pemilu serentak ini seperti pernikahan paksa, dua pemilu dipaksa untuk digabungkan. Kami melihat tidak adanya kesetaraan antara pemilihan presiden dan pemilihan legislatif," kata Aji dalam sebuah diskusi berjudul 'Pemilu Serentak' Eliminate 'di Jl Wahid Hasyim, Jakarta Center.
Aji mengatakan bahwa hampir 70 persen percakapan publik membahas pemilihan presiden. Aji juga mengatakan tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan presiden yang lumpuh adalah dalam pemilihan legislatif.
"Hampir 70 persen pembicaraan publik kebanyakan tentang pilrpes. Pada tingkat partisipasi berbeda, jika pemilihan presiden 81 persen, jika pemilihan sekitar 70 persen," kata Aji.
Aji menjelaskan bahwa orang perlu tahu bagaimana memilih eksekutif dengan memilih legislatif sebagai hal yang penting. Namun, karena antusiasme masyarakat lebih ke arah pemilihan presiden, informasi terkait pemilu legislatif menjadi minim dan diterima oleh publik.
"Kita tahu bahwa memilih eksekutif sama pentingnya dengan memilih parlemen. Partai politik saya pasti merasakan hal yang sama, ada sangat sedikit partai politik untuk melakukan sosialisasi kepada publik jika mereka adalah partai politik atau kandidat yang memenuhi syarat untuk dipilih. , "Aji menjelaskan.
"Kualitas pilihan publik akhirnya sangat minim karena rendahnya info yang diterima publik mengenai kandidat atau partai politik," lanjutnya.
Seperti diketahui, Pemilu 2019 digelar serentak antara Pileg dan Pilpres. Ini berbeda dari 2014 di mana Pileg dan Pilpres diadakan secara terpisah.
Sumber
"Kerumitan (Pemilu 2019) kita dapat menyimpulkan pemilu serentak ini seperti pernikahan paksa, dua pemilu dipaksa untuk digabungkan. Kami melihat tidak adanya kesetaraan antara pemilihan presiden dan pemilihan legislatif," kata Aji dalam sebuah diskusi berjudul 'Pemilu Serentak' Eliminate 'di Jl Wahid Hasyim, Jakarta Center.
Aji mengatakan bahwa hampir 70 persen percakapan publik membahas pemilihan presiden. Aji juga mengatakan tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan presiden yang lumpuh adalah dalam pemilihan legislatif.
"Hampir 70 persen pembicaraan publik kebanyakan tentang pilrpes. Pada tingkat partisipasi berbeda, jika pemilihan presiden 81 persen, jika pemilihan sekitar 70 persen," kata Aji.
Aji menjelaskan bahwa orang perlu tahu bagaimana memilih eksekutif dengan memilih legislatif sebagai hal yang penting. Namun, karena antusiasme masyarakat lebih ke arah pemilihan presiden, informasi terkait pemilu legislatif menjadi minim dan diterima oleh publik.
"Kita tahu bahwa memilih eksekutif sama pentingnya dengan memilih parlemen. Partai politik saya pasti merasakan hal yang sama, ada sangat sedikit partai politik untuk melakukan sosialisasi kepada publik jika mereka adalah partai politik atau kandidat yang memenuhi syarat untuk dipilih. , "Aji menjelaskan.
"Kualitas pilihan publik akhirnya sangat minim karena rendahnya info yang diterima publik mengenai kandidat atau partai politik," lanjutnya.
Seperti diketahui, Pemilu 2019 digelar serentak antara Pileg dan Pilpres. Ini berbeda dari 2014 di mana Pileg dan Pilpres diadakan secara terpisah.
Sumber

Komentar
Posting Komentar