Cicipi Dawet Nganten Cengklik Reservoir Boyolali yang Segar, Berbeda dengan Biasa!

WESTERNBLOG.XYZ - Alfina, 19, dan Fajar, 21, turun dari sepeda motor di depan sebuah warung hijau di pinggir jalan Desa Ngesrep - Desa Ngargorejo, Distrik Ngemplak, Boyolali.
Tepat di sisi selatan Waduk Cengklik, sebuah toko yang bertuliskan Dawet Nganten menarik perhatian mereka berdua. Tak lama setelah memarkir sepeda motor di tepi jalan, mereka berdua memasuki toko. Kiosnya terbuka dan hanya atap seng.
Sejumlah meja dan bangku lesehan sebagai kursi yang ditata berjajar. Sebuah papan yang juga ditempel dengan tulisan Dawet Nganten sebagai merek produk menjadi penghalang bagi warung lewat jalan darat.
Setelah memesan dua mangkuk dawet, Alfina dan Fajar memilih duduk lesehan. Mereka mengobrol sambil menunggu pesanan tiba. "Penasaran karena namanya unik, dia belum pernah melihatnya," kata Alfina.
Meskipun seringkali terbukti dengan sendirinya di jalan Desa Ngesrep, kios-kios ini baru disadari oleh mereka seminggu kemudian. "Karena hari ini, sama seperti yang terjadi, itu hanya terjadi untuk membuka, dan berhenti," tambahnya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, dua mangkuk dawet disajikan di meja. Tidak seperti kebanyakan dawet yang berwarna hijau, Dawet Nganten sebenarnya jernih. Pemilik toko, Eko Saputro, sengaja membuat dawet berbeda.
"Jika biasanya berwarna hijau, ini tidak diberi pewarna tetapi bahan dasarnya tetap sama sehingga warnanya putih," kata seorang warga Desa Sobokerto, Kabupaten Ngemplak.
Semangkuk Dawet Nganten dijual oleh Eko dengan harga Rp. 3.000. Ukuran mangkuk relatif kecil seperti mangkuk bundar di wedang. Selain menikmati dawet, toko ini juga menyediakan makanan ringan tambahan seperti nasi ketan dan rambak tape. "Wow, rasanya enak, manisnya benar," kata Fajar, ketika dimintai komentar.
Eko membuka bisnis warung Dawet sejak pertengahan Desember 2018. Dia tidak punya alasan khusus untuk memilih jenis bisnis ini. "Pikirkan saja makanan yang populis dan pas di lidah banyak orang, terutama di sini dekat dengan tempat wisata," katanya.
Toko kelontong
Perdagangan memang pekerjaan Eko, selain toko dawet dia pertama kali membuka toko kelontong di daerah yang sama.
Mengenai pemilihan nama, Eko mencetuskannya secara spontan. Dia hanya berusaha mencari nama yang unik dan mudah diingat oleh banyak orang sehingga tokonya mudah melekat di hati banyak pelanggan. "Nama Dawet Nganten didirikan, pada saat yang sama itu bisa menjadi doa," tambahnya.
Sebagai strategi promosi, Eko dapat memposting beberapa poster MMT yang bertuliskan Dawet Nganten di sepanjang jalan Ngesrep-Ngargorejo.
Hasilnya sekarang dalam sehari Eko berhasil menjual hingga 100 porsi Dawet. Warung Dawet Nganten buka sejak pagi sekitar pukul 09.30 WIB dan tutup ketika semua bagian dawet ludes terjual.
Komentar
Posting Komentar